Selasa, 02 Oktober 2012

MEDIUM DAN CARA PEMBUATAN MEDIUM

-->
I.         JUDUL
“MEDIUM DAN CARA PEMBUATAN MEDIUM”

II.      TUJUAN
Untuk mengetahui macam-macam medium berdasarkan atas bahan yang digunakan dan kegunaannya.

III.   DASAR TEORI
Mikroorganisme yang ingin kita tumbuhkan yang pertama harus dilakukan adalah memahami kebutuhan dasarnya kemudian memformulasikan suatu medium atau bahan yang akan digunakan. Air sangat penting bagi organisme bersel tunggal sebagai komponen utama protoplasmanya serta untuk masuknya nutrien ke dalam sel. Pembuatan medium sebaiknya menggunakan air suling. Air sadah umumnya mengandung ion kalsium dan magnesium yang tinggi. Pada medium yang mengandung pepton dan ektrak daging, air dengan kualitas air sadah sudah dapat menyebabkan terbentuknya endapan fosfat dan magnesium fosfat (Hadioetomo, 1993)
Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunannya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anorganik ditambah sumber karbon organic seperti gula. Sedangkan mikroorganisme lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya (Volk dan Wheeler, 1993)
Medium adalah suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi yang dipakai untuk menumbuhkan mikroorganisme. Selain itu medium juga dapat digunakan untuk isolasi, memperbanyak, menguji sifat-sifat fisiologis, menghitung jumlah mikroorganisme, dan lain-lain. Medium yang baik harus mengandung semua zat yang diperlukan untuk kehidupan mikroorganisme antara lain senyawa organic (protein, karbohidrat, lemak) mineral dan vitamin.




3.1.       MACAM MEDIUM PERTUMBUHAN
1.    Medium dasar/ basal mineral
Medium dasar adalah medium yang mengandung campuran senyawa anorganik. Medium dasar ini selanjutnya ditambah zat lain apabila diperlukan, misalnya sumber karbon, sumber energi, sumber nitrogen, faktor tumbuh, dan faktor lingkungan yang penting seperti pH dan oksigen serta tekanan osmosis.
2.    Medium sintetik
Medium sintetik adalah medium yang seluruh susunan kimia dan kadarnya telah diketahui dengan pasti. Sebagai contoh adalah medium dasar yang ditambah NH4Cl (medium 1) dengan sumber karbon berupa gas CO2, apabila diinkubasikan dalam keadaan gelap dapat digunakan untuk menumbuhkan bakteri nitrifikasi khemoototrof, misalnya bakteri Nitrosomonas. Bakteri ini memperoleh energi dari oksidasi amonium, selain itu amonium juga berfungsi sebagai sumber nitrogen. Contoh lain adalah medium dengan susunan sama dengan medium 1 tetapi ditambah glukosa (medium 2). Dalam keadaan aerob merupakan medium untuk perbanyakan jamur dan bakteri yang bersifat heterotrof. Glukosa berfungsi sebagai sumber karbon dan sumber energi. Dalam keadaan anaerob, medium ini dapat digunakan untuk menumbuhkan bakteri fakultatif anaerob maupun anaerob obligat. Energi diperoleh dari hasil fermentasi glukosa. Untuk menumbuhkan mikroba yang memerlukan faktor tumbuh dapat menggunakan medium yang komposisinya sama dengan medium 2 tetapi ditambah asam nikotinat (vitamin) sebagai faktor tumbuh (medium 3).
3.    Medium kompleks
Medium kompleks adalah medium yang susunan kimianya belum diketahui dengan pasti. Sebagai contoh medium ini adalah medium dasar yang ditambah glukosa dan ekstrak khamir (medium 4). Susunan kimia ekstrak khamir tidak diketahui secara pasti, tetapi mengandung berbagai faktor tumbuh yang sering diperlukan oleh mikroba. Medium ini dapat untuk menumbuhkan mikroba khemoheterotrof aerob maupun anaerob baik yang memerlukan maupun yang tidak memerlukan faktor tumbuh. Medium yang juga termasuk medium kompleks adalah yang mengandung ekstrak tanah.
4.    Medium diperkaya
Medium Medium diperkaya adalah medium yang ditambah zat tertentu yang merupakan nutrisi spesifik untuk jenis mikroba tertentu. Medium ini digunakan untuk membuat kultur diperkaya (enrichment culture) dan untuk mengisolasi mikroba spesifik, dengan cara mengatur faktor lingkungan (suhu, pH, cahaya), kebutuhan nutrisi spesifik dan sifat fisiologinya. Dengan demikian dapat disusun medium diperkaya untuk bakteri yang bersifat khemoheterotrof, khemoototrof, fotosintetik, dan untuk mikroba lain yang bersifat spesifik.

3.2.       Syarat-syarat Suatu Medium
Supaya mikroorganisme dapat tumbuh baik, maka medium harus memenuhi syarat-syarat :
-          Harus mengandung nutrisi yang mudah digunakan oleh mikroorganisme.
-          Harus mempunyai tekanan osmose, tegangan permukaan dan pH yang steril
-          Harus tidak mengandung toksin
-          Harus steril
(Tim Dosen Mikologi, 2011)

3.3.       Penggolongan Medium
a.       Berdasarkan bahan yang digunakan kita mengenal :
-       Medium Alamiah atau substrat
Medium ini terdiri atas bahan-bahan alam seperti : sari buah, wortel, nasi, jagung, kentang, darah, susu, daging, dan bahan alami lainnya.
-       Medium Semi Alamiah
Medium ini terdiri atas bahan alami ditambah dengan senyawa kimia, misalnya Potato Dextrose Agar (PDA), Taoge Ekstrak Agar (TEA), Malt Ekstrak Agar (MEA), dan lain sebagainya.
-       Medium Buatan atau Medium Sintetis
Medium ini terdiri atas senyawa-senyawa kimia yang komposisinya dan jumlahnya sudah ditenrukan, misalnya Czapeks Dox Agar (CDA),  Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dan lainnya.
b.      Berdasar Kegunaannya
-       Medium Umum
Medium ini ditumbuhi oleh mikroorganisme secara umum, yaitu banyak jenis mikroorganisme yang dapat tumbuh pada media ini, misalnya, Nutrient Agar (NA), Potato Dextrose Agar (PDA), Taoge Ekstrak Agar (TEA) dan lain sebagainya.
-       Medium selektif
Medium ini komposisinya sedemikian rupa, sehingga hanya jenis-jenis mikroorganisme tertentu saja yang dapat hidup, misalnya Salmonella Shigella Agar (SSA), Brilliant Green Lactose Broth (BGLB)
-       Medium differensial
Medium ini digunakan untuk membedakan jenis mikroorganisme satu dengan yang lain, disebabkan adanya suatu reaksi atau cirri yang khas. Reaksi ini terjadi karena mikroorganisme mampu mengurai salah satu bahan dalam medium, misalnya, Eosin Methylen Blue Agar (EMBA), Blood Agar (BA), dan sebagainya.
-       Medium perkayaan
Medium ini dipakai untuk menumbuhkan mikroorganisme tertentu, sebelum dipakai dalam suatu proses fermentasi. Tujuannya adalah untuk mengaktifkan mikroorganisme tersebut, misalnya, medium MEA untuk khamir.
-       Medium Penguji (Assay Medium)
Medium yang susunannya tertentu, digunakan untuk pengujian vitamin, asam amino, antibiotic, misalnya : PAA (Phenyl Alanin Agar), dan sebagainya.
-       Medium Khusus
Medium untuk menentukan tipe pertumbuhan mikroorganisme dan kemampuannya untuk mengadakan perubahan-perubahan kimia tertentu
c.       Berdasarkan Fisiknya
-       Medium Padat (Agar)
Medium ini diberi agar, sehingga pada suhu kamar medium mengeras. Contoh : Nutrient Agar
-       Medium Cair (Broth)
Medium ini tidak diberi agar sehingga bentuknya cair. Contoh : Nutrient Broth.
(Tim Dosen Mikrobiologi, 2011)




IV.    METODE PENELITIAN
4.1.Alat dan bahan
4.1.1. Alat :
-       Beaker glass
-       Erlenmeyer
-       Tabung reaksi
-       Cawan petri
-       Corong dan kapas
-       Kompor pemanas
-       Timbangan analisis
4.1.2. Bahan :
-       Kentang (rebusan air kentang)
-       Dextrose atau glukosa
-       Agar
-       Aquades

4.2.Cara kerja
 


































V.       HASIL PENGAMATAN
NO
CARA KERJA
HASIL
1
Memasukkan 250 mL air rebusan kentang (dipanaskan sampai mendidih) + 2,5 gram glukosa +3,75 gram agar dan diaduk sampai larutan menjadi campuran larutan homogen
·      Pemanas
·      Campuran larutan homogen
·      Didapat campuran larutan homogen (campuran air kentang+glukosa+agar)
2
Mengambil 5 mL campuran larutan homogen dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi (untuk medium miring) + menutup dengan kertas kayu yang didalamnya terdapat kapas + ditutup dengan aluminium foil, lalu disterilkan
·      Diperoleh medium miring dnegan kemiringan medium ± 1cm dari dinding tabung reaksi
·      Pada saat menuang tabung reaksi posisi tegak, lalu dimiringkan, memiringkannya dengan rak tabung reaksinya
3
Mengambil 10 mL campuran larutan homogen dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi (untuk medium tegak) + menutup dengan kertas kayu yang di dalamnya terdapat kapas + ditutup dengan aluminium foil
·      Di dapat medium tegak
4
Membuat medium dalam cawan petri ada 2 cara :
1.    Sisa larutan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer + menutup dengan aluminium foil, lalu disterilkan dengan autoclave selama 15 menit, lalu diambil campuran larutan homogen yang sudah steril sebesar 20 mL, lalu dituangkan ke cawan petri, menunggu sampai uap air hilang kemudian ditutup + dibungkus dengan aluminium foil.
2.    Sisa campuran larutan homogen 20 mL dituangkan  ke cawan petri + membungkus dengan aluminium foil lalu disterilkan
·      Campuran larutan homogen steril
·      Campuran larutan homogen belum steril, lalu disterilkan
·      Diperoleh medium cawan petri
·      Sebelum menutup cawan petri harus menunggu uap airnya menghilang, kemudian ditutup





VI.    PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, praktikan mempelajari tentang medium dan cara pembuatan medium. Pengertian dari medium sendiri adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan atau nutrisi yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Medium yang diamati dan dibuat pada praktikum ini merupakan medium semi alamiah. Yaitu Potato Dextrose Agar, atau disingkat PDA. Dikatakan sebagai medium semi alamiah karena medium ini terdiri atas bahan-bahan alami yaitu kentang dan campuran senyawa kimia yaitu dextrose.
Pembuatan PDA ini menggunakan air rebusan kentang, glukosa, dan agar dengan dipanaskan dan dicampur homogen. Kentang pada medium PDA berfungsi untuk memberikan sumber karbohidrat, vitamin, dan energy pada medium sedangkan Dextrosa berfungsi sebagai sumber gula dan energy. Dengan adanya agar, ketika medium ditempatkan pada kondisi dingin maka akan memadat. Serta aquades berfungsi sebagai pelarut antara kentang (air kentang), dextrose, dan agar.
Pada pembuatan PDA ini digunakan bahan kentang karena kentang mengandung komposisi lengkap dan dibutuhkan mikroba, yaitu air kentang mengandung vitamin dan mineral yang cukup tinggi, selain itu juga merupakan sumber karbohidrat. Seperti yang diketahui, mikroba membutuhkan karbohidrat untuk memperbanyak produksi asam amino dan gas, selain itu mikroba juga membutuhkan unsur-unsur mikro  dan makro sebagai nutrisinya. Karena itulah dengan menggunakan kentang sebagai bahan dasar pembuatan medium, diharapkan mikroba dapat memperoleh asupan nutrisinya dan dapat tumbuh dengan optimal.
Pembuatan medium PDA diawali dengan pengambilan rebusan air kentang. Rebusan air kentang ini diperoleh dari kentang dengan massa sebesar 50 gram yang dipotong berbentuk dadu. Potongan berbentuk dadu memungkinkan agar zat-zat yang terkandung di dalam kentang tidak hilang saat potongan-potongan kentang dicuci. Namun bila kentang dipotong tipis-tipis maka akan menyebabkan hilangnya zat-zat yang terkandung dalam kentang saat potongan-potongan itu dicuci. Kentang yang dipotong dalam bentuk dadu ini direbus dengan menggunakan aquades sebanyak 250 ml. Dalam hal ini aquades berfungsi sebagai pelarut zat yang terkandung dalam kentang. Bila saat merebus kentang tidak menggunakan air maka akan menyebabkan rusaknya zat-zat yang terkandung dalam kentang karena adanya kontak langsung antara zat-zat yang ada pada kentang dengan panas. Sebaiknya dalam merebus aquadest, volumenya dilebihkan untuk penguapan. Ketika kentang direbus dalam aquadest, sebaiknya sambil diaduk-aduk untuk mencegah terjadinya bumping/letupan dan mencegah keluarnya air. Setelah mendidih, rebusan tersebut ditunggu sampai 20 menit sambil diaduk. Kemudian, rebusan air kentang tersebut disaring dengan kertas saring.  Tujuaannya adalah untuk memisahkan air kentang dengan filtratnya (endapan). Bila rebusan air kentang tidak disaring maka akan menyebabkan rebusan air kentang itu tidak tahan lama karena filtratnya akan menyebabkan kontaminasi pada rebusan air kentang dan medium yang akan dibuat. Selain itu juga memberikan kualitas yang jelek pada medium itu.
Kemudian rebusan air kentang sebanyak 250 ml dimasukkan dalam beaker glass, lalu dipanaskan dengan menggunakan penangas air sampai mendidih. Setelah mendidih ke dalam air kentang itu kami masukkan 2,5 gram glukosa dan 3,75 agar sambil diaduk-aduk. Pemanasan berfungsi untuk memecah partikel-partkikel besar yang terdapat pada ketiga bahan menjadi partikel-partikel kecil sehingga memudahkan dalam pelarutan. Lalu pengadukan berfungsi agar ketiga bahan cepat tercampur menjadi larutan homogen. Setelah ketiga bahan tersebut tercampur menjadi suatu larutan yang homogen, lalu kompor penangas air dimatikan dan mengangkat campuran larutan homogen yang ada pada beaker glass ke tempat lain. Setelah itu kami mengambil 5 mL untuk pembuatan medium miring. 5 mL campuran larutan homogen kami tuangkan ke dalam tabung reaksi. Lalu dilakukan penyumbatan dengan kapas yang dibalut dengan kertas kayu dan dibungkus lagi dengan aluminium foil. Penyumbatan dilakukan supaya medium yang akan disterilkan tidak akan kontak langsung dengan panas. Selain itu penyumbatan digunakan untuk menghalangi mikroba yang akan masuk ke dalamnya.  Untuk membuat medium miring, tabung reaksi yang berisi medium cepat-cepat dimiringkan dengan menggunakan rak tabung reaksi. Bila tidak cepat-cepat dimiringkan, medium yang di dalam tabung reaksi akan memadat.
Medium miring memiliki keunggulan yaitu memiliki permukaan tanam bakteri yang luas dibandingkan dengan medium tegak. Tetapi medium miring juga memiliki kelemahan yaitu sedikitnya kandungan nutrisi yang tersimpan di dalamnya karena medium miring hanya menggunakan 5mL saja.
Pembuatan medium tegak lebih mudah dibandingkan pembuatan medium miring karena setelah menuangkan campuran larutan homogen ke dalam tabung reaksi tidak harus memiringkan tabung reaksi itu. Cukup hanya menaruh tabung reaksi pada rak tabung reaksi dengan posisi tegak.
Medium tegak memiliki keunggulan yaitu kandungan nutrient di dalamnya lebih banyak dibandingkan dengan medium miring karena pembuatan medium ini memerlukan 10mL campuran larutan homogen (air kentang, glukosa, agar) dan pembuatannya mudah. Tetapi medium tegak juga memiliki kelemahan diantaranya sempitnya permukaan tanam bakteri sehingga hanya sedikit bakteri yang dapat hidup di dalamnya.
Pembuatan medium cawan dilakukan dengan menuangkan sisa campuran larutan homogen yang digunakan untuk membuat medium miring dan tegak ke dalam Erlenmeyer. Campuran larutan homogen yang ada di dalam Erlenmeyer ditutup dengan menggunakan aluminium foil sebelum disterilkan. Hal ini dimaksudkan supaya campuran larutan homogen tidak kontak langsung dengan panasnya autoclave. Campuran larutan homogen yang sudah disterilkan itu dituangkan ke dalam cawan petri dan cawan petri tidak boleh cepat-cepat ditutup. Hal ini dimaksudkan supaya uap air yang ada pada medium itu menghilang. Bila setelah dituang ke dalam cawan petri medium langsung ditutup maka uap air bisa menyebabkan kontaminasi dan menyebabkan tidak aktifnya enzim metabolisme pada medium dan bakteri.
Medium cawan memiliki keunggulan yaitu memiliki permukaan tanam bakteri yang luas dan memiliki suplai makanan yang banyak bagi bakteri yang hidup di dalamnya. Hal ini karena dalam pembuatan medium cawan campuran yang digunakan lebih besar da medium miring dan medium tegak yaitu sebesar 15 mL.



VII. KESIMPULAN
-          Medium adalah bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan atau nutrisi yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhannya.
-          Medium PDA terbuat dari air rebusan kentang, dextrose, dan agar. Rebusan air kentang berfungsi sebagai sumber karbohidrat, vitamin, dan energi. Dextrosa berfungsi sebagai sumber gula dan energy. Dan agar berfungsi sebagai pemadat medium PDA
-          Medium PDA dapat dibuat menjadi 3 tipe medium antara lain medium miring, medium tegak dan medium cawan petri.




DAFTAR PUSTAKA

Hadioetomo, R.S. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Jakarta : Gramedia
Tim Dosen Mikrobiologi. 2011. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Jember : Universitas Jember.
Tim Dosen Mikologi. 2011. Petunjuk Praktikum Mikologi. Jember : Universitas Jember
Volk, W. A & Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar Jilid 1 Edisi ke 5. Jakarta : Erlangga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar